Strategi Investasi yang Berkelanjutan

Oleh Achmad Deni Daruri, Founder BGK Foundation
Strategi investasi Indonesia tahun 2024 yang utama adalah meningkatkan Total Factor Productivity (TFP), ukuran efisiensi produksi yang menggambarkan seberapa baik suatu negara menggunakan input-input produksinya. TFP Indonesia mengalami penurunan sejak krisis ekonomi 1997-1998, dan masih berada di bawah rata-rata regional Asia Timur dan Pasifik.
Untuk meningkatkan TFP Indonesia, diperlukan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperbaiki iklim investasi dan bisnis, mempercepat inovasi dan adopsi teknologi, serta memperkuat integrasi ekonomi regional dan global dengan negara-negara ASEAN, China, India, dan Jepang. Pandemi Covid-19 memberikan dampak negatif terhadap TFP Indonesia, berkontribusi negatif sebesar -0,4 persen pada tahun 2020.
Kualitas investasi di Indonesia masih rendah dibandingkan negara-negara lain, hanya menempati peringkat ke-6 dari 10 negara ASEAN dalam hal FDI inflows per GDP pada 2022. Investasi di Indonesia masih didominasi sektor-sektor yang kurang berkontribusi terhadap TFP seperti pertambangan, konstruksi, dan properti, serta masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Jika strategi peningkatan TFP sudah dilakukan secara tepat, investor dapat mempertimbangkan beberapa instrumen investasi untuk tahun 2024, termasuk saham, reksadana saham, obligasi, dan reksadana pasar uang, masing-masing dengan profil risiko dan potensi imbal hasil berbeda.
Selain itu, investor dapat mempertimbangkan investasi hijau sebagai pilihan alternatif yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, seperti energi terbarukan, efisiensi energi, pengelolaan sampah, dan transportasi bersih. Namun, investasi hijau juga menghadapi tantangan di Indonesia, seperti regulasi yang belum memberikan kepastian hukum dan alokasi pendanaan hijau yang belum menjadi prioritas dalam APBN.
ImageSource: https://id.pinterest.com/pin/180988478772064919/


