Model Ekonomi Hijau ASEAN-India Free Trade Agreement (AIFTA)

Oleh Achmad Deni Daruri, Founder BGK Foundation
Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-India (AIFTA) merupakan langkah integrasi ekonomi yang signifikan yang telah berperan penting dalam memperkuat hubungan perdagangan antara negara-negara anggota ASEAN dan India. Perjanjian ini, yang mencakup perdagangan barang, jasa, dan investasi, bertujuan untuk menciptakan lingkungan pasar yang lebih liberal dan kompetitif. Perjanjian ini dirancang untuk mengurangi dan mengeliminasi tarif atas sejumlah besar barang, sehingga memudahkan akses ke pasar dan mempromosikan kerja sama ekonomi. Model ekonomi hijau dalam kerangka AIFTA menekankan pada pembangunan berkelanjutan, yang sejalan dengan pergeseran global menuju praktik yang ramah lingkungan. Model ini mendukung transisi ke ekonomi hijau dengan mendorong penggunaan sumber daya terbarukan, efisiensi energi, dan pengurangan emisi karbon.
Model ini juga mendorong inovasi dan pengembangan teknologi hijau, yang sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan pelestarian lingkungan. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip ekonomi hijau, AIFTA berkontribusi pada penciptaan lanskap ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan di kawasan ini. Eksplorasi mitigasi risiko perubahan iklim melalui penggunaan energi terbarukan merupakan langkah penting yang diambil dalam kerangka kerja AIFTA. Indonesia, sebagai negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, telah mengambil inisiatif serius dalam transisi energi dari sumber fosil ke sumber yang lebih berkelanjutan. Transisi ini tidak hanya mengurangi emisi karbon tetapi juga meningkatkan ketahanan energi nasional dan mendukung pembangunan ekonomi yang inklusif. Dengan komitmen kuat dari semua pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, Indonesia dapat mencapai target yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris dan kontribusi yang ditentukan secara nasional (NDC).
Efisiensi energi, pengelolaan sumber daya yang lebih baik, dan inovasi teknologi seperti penggunaan AI dalam manajemen energi, adalah beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk mencapai tujuan ini. Selain itu, pendekatan multi-sektoral dan integrasi kebijakan iklim dalam perencanaan pembangunan nasional akan memperkuat upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim di Indonesia. Ketentuan utama ASEAN-India Free Trade Agreement (AIFTA) mencakup beberapa aspek penting yang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dan perdagangan antara negara-negara anggota ASEAN dan India. Pertama, perjanjian ini menetapkan pengurangan dan penghapusan tarif untuk 75% barang yang diperdagangkan, dengan komitmen untuk menurunkan tarif di bawah 5% untuk 10% lini produk lainnya. Kedua, AIFTA mencakup kesepakatan perdagangan barang, jasa, dan investasi yang menciptakan pasar yang lebih liberal dan kompetitif. Ketiga, terdapat ketentuan tentang transparansi, regulasi domestik, pengakuan, akses pasar, perlakuan nasional, dan penyelesaian sengketa dalam Perjanjian Perdagangan Jasa.
Keempat, Perjanjian Investasi AIFTA menetapkan perlindungan investasi untuk memastikan perlakuan yang adil dan setara bagi investor, serta perlakuan nondiskriminatif dalam ekspropriasi atau nasionalisasi dengan kompensasi yang adil. Kelima, AIFTA mendorong kerjasama ekonomi dalam berbagai sektor seperti pertanian, perikanan, kehutanan, jasa, pertambangan dan energi, ilmu pengetahuan dan teknologi, transportasi dan infrastruktur, manufaktur, pengembangan sumber daya manusia, dan sektor lainnya termasuk kerajinan tangan, usaha kecil dan menengah (UKM), kebijakan persaingan, Pengembangan Cekungan Mekong, hak kekayaan intelektual, dan pengadaan pemerintah. Selain itu, AIFTA juga memperkenalkan konsep faktur barang pihak ketiga dan kumulasi regional, yang memungkinkan produk asal untuk mempertahankan status asalnya meskipun melalui negara ketiga, dan bahan baku asal dari negara-negara anggota FTA dapat diperhitungkan dalam menilai kriteria asal produk akhir.
Aturan asal atau Rules of Origin adalah seperangkat kriteria yang menentukan status asal produk dalam FTA untuk memastikan bahwa hanya barang-barang yang berasal dari negara-negara mitra FTA yang mendapat manfaat dari penurunan tarif. ASEAN-India Free Trade Agreement (AIFTA) memiliki dampak yang signifikan terhadap sektor pertanian, baik di Indonesia maupun di negara-negara ASEAN lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa AIFTA dapat meningkatkan kesejahteraan kedua belah pihak melalui peningkatan ekspor dan impor komoditas pertanian. Di Indonesia, sektor pertanian mengalami peningkatan ekspor pada komoditas seperti sayuran, buah-buahan, serta minyak nabati dan lemak. Hal ini menunjukkan adanya peluang pasar yang lebih luas bagi produk-produk pertanian Indonesia di India. Selain itu, AIFTA juga mendorong peningkatan kualitas produk pertanian sehingga lebih kompetitif di pasar lokal, regional, maupun global. Dengan adanya penurunan tarif dan hambatan perdagangan, produk pertanian Indonesia memiliki akses yang lebih baik ke pasar India, yang merupakan salah satu mitra dagang utama dalam sektor ini. Namun, terdapat juga tantangan yang dihadapi oleh sektor pertanian akibat implementasi AIFTA.
Peningkatan impor untuk beberapa komoditas pertanian dapat memberikan tekanan pada produsen lokal dan mempengaruhi kinerja sektor pertanian dalam negeri. Studi lain menunjukkan bahwa pembentukan AIFTA menciptakan efek trade diversion pada ekspor total, pertanian, serta manufaktur Indonesia, yang berarti bahwa perdagangan dengan negara-negara non-AIFTA dapat berkurang sebagai akibat dari perjanjian ini. Dampak AIFTA terhadap sektor pertanian juga bervariasi di berbagai wilayah di Indonesia. Misalnya, PDB riil di Sumatera dan Kalimantan diperkirakan meningkat, sementara di Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, dan Papua-Maluku diperkirakan menurun. Ini menunjukkan bahwa manfaat ekonomi dari AIFTA tidak merata dan dapat mempengaruhi dinamika sosial ekonomi regional. Secara keseluruhan, AIFTA berpotensi memberikan kontribusi positif terhadap sektor pertanian melalui peningkatan akses pasar dan kerjasama ekonomi.
Namun, perlu ada strategi dan kebijakan yang tepat untuk memastikan bahwa sektor pertanian dapat beradaptasi dan bersaing di pasar bebas yang lebih luas ini. Kebijakan yang mendukung diversifikasi produk, peningkatan kualitas, dan inovasi teknologi pertanian akan sangat penting untuk memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh AIFTA dan mengatasi tantangan yang muncul. ASEAN-India Free Trade Agreement (AIFTA) telah memberikan dampak yang beragam terhadap sektor perikanan di negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Dengan adanya penurunan tarif dan hambatan perdagangan non-tarif, AIFTA memberikan peluang bagi peningkatan ekspor produk perikanan dari negara-negara ASEAN ke India. Hal ini dapat meningkatkan skala produksi dan efisiensi industri perikanan, serta memperluas pasar bagi produk perikanan ASEAN. Di sisi lain, AIFTA juga membuka pasar domestik bagi impor produk perikanan dari India, yang dapat meningkatkan persaingan bagi produsen lokal dan mempengaruhi harga di pasar domestik. Studi yang menggunakan model ekonomi umum terapan menunjukkan bahwa liberalisasi perdagangan melalui AIFTA dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi secara keseluruhan, namun mungkin juga menyebabkan perubahan dalam struktur produksi sektor perikanan di beberapa negara anggota ASEAN. Misalnya, negara-negara dengan industri perikanan yang lebih berkembang mungkin akan mengalami peningkatan ekspor, sementara negara-negara dengan industri perikanan yang kurang kompetitif mungkin akan menghadapi tantangan yang lebih besar.
ImageSource: https://id.pinterest.com/pin/596164069465649829/


